Selasa, 19 November 2013

KERAJAAN SANGIHE TALAUD

Dari perspektif dinamika kependudukan, Tampungan Lawo atau Sangihe Besar pantas dicatat. Karena di pulau inilah sebagai akibat dinamika politik, sosial dan budaya penduduknya diduga sejak abad 12 muncul pemerintahan lokal/tradisional . Pertama kali, dibuktikan lewat catatan jurutulis Magellan tahun 1421, Antonio Pigaffeta. Di Sangihe, Pigafetta mencatat ada empat raja. Dua di Siau dan satu di Tagulandang. Tapi sumber sejarah tiga abad sesudahnya, hasil tulisan F. Valentijn yang datang ke Sangihe awal abad ke-18, menyebut awalnya hanya dua saja kerajaan di Sangihe, yaitu Tabukan dan Kendahe. Menurutnya, nanti kira-kira tahun 1670 muncul sembilan kerajaan di Sangihe, yaitu: Kerajaan Kolongan, Kerajaan Taruna, Kerajaan Kolongan, Kerajaan Manganitu, Kerajaan Kauhis, Kerajaan Limau, Kerajaan Tabukan, Kerajaan Sawang (Saban) dan Kerajaan Tamako.

Namun, kemudian kerajaan yang terakhir (Tamako) menjadi bagian Siau. Sementara, Raja Limau ditumpas pasukan kiriman Padtbrugge. Kerajaan ini hancur lebur. Dan, Sawang bergabung dengan Kerajaan Taruna dan Kerajaan Kolongan. Sedangkan Kauhis bergabung dengan Manganitu.
Kerajaan Sahangsowang
Sebelum kerajaan ini berdiri sudah ada kerajaan Apapuang, kemudian diganti dengan Kerajaan Sahangsowang. Kerajaan Sahangsowang adalah kerajaan dari manusia raksasa yang musnah karena letusan Gunung api Awu.

Kerajaan Tampung Lawo berdiri pada abad ke 13 dengan raja pertama bernama Gumansalangi dengan permaisuri Konda Wulaeng/Sangiang konda (putri khayangan). Pangeran Gumansalang berasal dari suku Sangil/Sanghi, Sangir kerajaan di Kotabato Mindanauw selatan sekarang Fhilipina. Gumansalangi anak dari Tumudai/Tuwondai melalui permaisuri Bintang Keramat dari kedatuan Ternate. Wilyah kerajaannya meliputi Sangihe, Maluku Utara hingga Mindanauw.Keturunan Gumansalangi menurunkan Datu-datu di Mindanao. Ampuang menikah dengan Ruatangkan, mereka dikaruniai anak bernama Datu Tahidumole. Datu Tahidumole menikah dengan Hiabunti, mereka melahirkan Datu Matumama. Datu Matumama menikahi Lalakangbulang lalu melahirkan Ondolilare. Ondolilare menikah dengan Waulana, mereka melahirkan Lapatua. Lapatua menikah dengan Binilangkati, lalu melahirkan Ampuang II. Kemudian Ampuang II menikah dengan Belisehiwu lalu memperanakan anak-anak sebagai berikut :
1. Balatanggara
2. Ratu Mangantanusa
3. Tubu-tubu
4. Mangingbulang
5. Manamehe
6. Tandingbulaeng
7. Tikase
8. Bawu Raupang dan
9. Lamanaowa.
Balatanggara, Ratu Mangantanusa, Manamehe, dan Lamanaowa kembali ke kepulau Sangihe, mulai dari pulau Balut/Marulung, Saranggani hingga ke daratan pulau Sangihe Besar. Manamehe memiliki sebuah batu keberuntungan. batu tersebut sampai saat ini masih ada di Marulung (Balut).
Tubu-Tubu pergi ke Bolang Itang. Mangingbulang pergi ke Sulu. Tandingbulaeng, Tikase, dan Bawu Raupang tinggal di Mindanao. Bahwa pulau Balut disebut Marulong/Marulung artinya dekat Marori daratan. Alkisah bahwa Marulung, Saranggani dahulukala bersambung dengan pulau Mindanao, akan tepi datanglah orang-orang sakti dari kerajaan Tamponglawo (sangihe) dengan menggunakan lenso (saputangan) sebagai perahu, dengan maksud memerangi kerajaan di Mindanao, oleh karena ingin memisahkan diri dari kerajaan Tampunglawo. Orang-orang sakti ini membuat tali (kakandong), mengambil Tempurung kelapa lalu diisi dengan pasir, lalu menarik tempurung dengan tali yang sementara dibuat (kekandongang) dibarengi/disertai dengan ucapan-ucapan(Sasambo), sehingga pulau Mindanao terputus lalu jadilah pulau Marulung(Balut) dan Saranggani sekarang ini terpisah dari Mindanao. Konon mereka kehabisan bahanbaku (ijuk) dari pohon Seho (Enau) atau dalam bahasa Sangir disebut Kampuhang, sehingga kedua pulau tersebut tak sempat dibawa lebih dekat ke pulau Sangir Besar. Berdasarkan peristiwa ini kerajaan-kerajaan Mindanao menyerah dibawah taklukkan kerajaan Tampunglawo dibawah raja Gumansalangi. Pulau Marulung(Balut) dan Saranggani di persembahkan sebagai upeti kepada kerajaan Tampunglawo, berdasarkan peristiwa ini, maka kedua pulau ini dihuni oleh masyarakat keturunan Sangihe Talaud hingga kini. Sultan Mindanao berasal dari keturunan Gumansalangi. melalui anak bernama Tipuandatu memiliki sebuah jubah yang dinamai menurut namanya “ Tampuan Punta” adalah kulano (sultan) di Mindanao.
Di daerah Tugis terdapat makam Umar Masade, seorang imam Islam dari Tabukan (Sangihe). Menurut cerita makam ini terjadi keajaiban hari demi hari berkembang terus menjadi besar. Umar Masade berasal dari kerajaan Tabukan yang belajar agama Islam di Ternate menurut cerita rakyat bahwa ia pergi ke Mindanao dengan menggunakan sebuah piring besar. Piring ini sering digunakan untuk pergi pulang Tabukan dalam menyebarkan agama Islam pada abad ke 14. terjadi keajaiban . Juga Panurat yang menyebarkan agama Islam di Marulung.
Keturunan generasi ketiga Umar Masade dan Panurate adalah Melanginusa, yang menyebarkan agama Islam di pulau Marulung(Balut) dan saranggani dan Nalikunusa pergi ke semua tempat di Mindanao mereka tidak kembali ke Tabukan keturunan mereka berkembang di Mindanao.
Berikut posting dari Published in The Philippine Post on Dec. 26, 1999 Historiography By Datu Jamal Ashley Abbas "Today, Sarangany Island (I’m keeping the old spelling to distinguish it from the newly created Sarangani province) is one of the poorest and most neglected municipalities in the country. Yet once upon a time, it was the seat of a powerful Principality that held dominion over the east coast of Mindanao (up to Tandag), the Sarangani Bay, the Butuan Gulf (now Davao Gulf) and even in the Sangirese Islands in Northern Moluccas.
The natives of Sarangany and its “twin”, Balut Island, belong to the Sangil or Sangir ethnic groups. According to anthropologists, the Sangils are autochthonous to the Davao area. They speak the Sangil and/or Sangir languages. Sangir is also spoken by some 200,000 Sangirese in Moluccas.
In 1575, the powerful Sultan Bajang Ullah of Ternate made a mutual defense pact with the Datu of Sarangani / Rajah of Candahar, whose capital was in Balut Island.
In the past, Maguindanao’s, Buayan’s, Sarangany’s, Candahar’s and Sangir’s rulers were practically one family. For example, in the latter half of the 17th century, the children of Datu Buisan of Sarangany a.k.a. the Rajah of Candahar were all over the region. His sons included Kudjamu, the Rajah of Buayan; Samsialam and Makabarat, co-rulers of Buayan who later chose to live in Ternate; and Pandjalang the Prime Minister of Tabukan in North Sangir. His daughters were married to Sultan Barahaman and Katchil Bakaal of Maguindanao, and the Sultan of Tabukan. His favorite daughter Lorolabo, who was married to the Tabukan sultan, had a son, Joannes Calambuta, whom Buisan chose to succeed him as Rajah of Candahar. Rajah Buisan was the son of Datu Buisan of Davao.
If Rajah Buisan of Candahar were alive today, I wonder what passport would he use. The Dutch considered him a Sangirese /Moluccan ruler, yet he was the son of Datu Buisan of Davao and was born and reared in Sarangany Island".
Kerajaan Malinggaheng 


Kerajaan ini berdiri merupakan pemekaran dari kerajaan Tapung Lawo. raja Malinggaheng pertama bernama Balanaung (anak Raja Mindanauw) dengan permaisuri (Boki Siti Bai)cucu raja Gumansalangi. Wilayah kerajaan Kendahe, P. Lipang, P. Kawaluso, P. Kawio, P. Komboleng, P. Sulu, P. Kaluwulang, P. Saranggani, P. Matutuang (Balut).Kemudian kerajaan ini berubah menjadi kerajaan Kendahe (Candahar).
Tercatat pula ada kerajaan yang ‘wilayahnya’ sampai ke bagian-bagian negara Filipina kini. Kendahe misalnya disebut-sebut dalam beberapa situs di Mindanao sebgai candahar mempunyai wilayah ke Mindanao. Raja Buisang/Wuisang menjadi raja menggantikan Balanaung,dikisahkan raja Buisang pergi ke Mindanow untuk berunding dengan Raja Babulla dari Kerajaan Ternate untuk membuat pertanan bersama namun setelah kembali ke Makiwulaeng (Kendahe) istrinya telah diambil oleh orang lain dan kerajaan diganti oleh anaknya bernama Samensi Alang, lalu raja Wuisang pergi mengembara ke Minahasa. 
Adapun wilayah Kerajaan Kendahe setelah pisah dari Tubis meliputi Bahu, Talawid, Kendahe, Kolongan, Batuwukala dan pulau-pulau sekitarnya termasuk Kawio, Lipang, Miangas sampai sebagian Mindanau Selatan. Bagian yang di Mindanao merujuk pada data Valentijn adalah Coelamang, Daboe (Davao), Ijong, Maleyo, Catil dan Leheyne,
Meski demikian, penting digarisbawahi pada waktu lalu konsep kekuasaan tidaklah total dipahami sebagai kekuasaan kewilayahan dalam pemahaman kini.Kala itu, kekuasaan dominan terkait dengan kemampuan membentuk kekuatan bersenjata yang mobile demi merebut kendali atas perdagangan tenaga kerja budak dan monopoli atas produk-produk dagang lain27. Sedang, kekuasaan menurut Evelyn Tan Cullamar dalam tulisannya ‘’Migration Across Sulawesi Sea” dibangun atas relasi orang atau tokoh lain. Aliansi politik dibangun dominan dengan kawin-mawin di antara para elit pemimpin.
Kerajaan Kerajaan Bowontehu berdiri pada akhir abad 9 dengan pusat kerajaan di Molibagu dengan raja bernama Humansandulage dengan boki Tendensehiwu putri khayangan, kemudian Budulangi dengan boki Rantingan (putri Ting)kemudian Mokodoludud pindah ke Bentenang, ke Pesolo (Lembe) ke Pulisang ke Lokon lalu ke Manarauw (Manado Tua). Raja Budulang dengan permaisuri Putri Ting memperanakan Toumatiti, Toumatiti memepranakan Mokodoludut.Mokodoludud membangun kembali kerajaan Bowontehu dengan pusat pulau Manarouw dengan gelar Kulano. Di Manarouw ini Mokodoludud dan Baunia dikaruniai lagi anak yang bernama, Jayubangkai, Uringsangiang dan Sinangiang. Penduduk kerajaan ini berkembang bertambah banyak sehingga sebagian mendiami daerah bagian utara dataran pulau Sulawesi yaitu Gahenang/Mahenang nama kuno untuk Wenang berasal dari bahasa Sangir Tua yaitu artinya api yang menyala/bercahaya/bersinar(suluh, obor, api unggun). Perpindahan dilakukan dengan menggunakan perahu (Bininta), melalui tempat yang bernama Tumumpa berasal dari bahasa Sangir yang artinya turun sambil melompat,kemudian menetap di Singkil berasal dari bahasa sangir Singkile artinya pindah/menyingkir. Mereka menyebar sampai ke Pondol bahasa Sangir disebut Pondole artinya di ujung. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manado Tua, P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi. .***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Penduduk Kerajaan Bowontehu/Manarouw adalah orang sangir (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).
Pada suatu ketika kembali Mokodoludud memerintahkan rakyatnya membuat perahu(Bininta), setelah selesai pembuatannya maka diuji kemampuan untuk mengapung, mendayung serta berlayar dari perahu. Kapal tersebut memuat putra-putri raja yaitu Lokonbanua, Uringsangiang, Sinangiang beserta Batahalawo, Manganguwi, Bikibiki, Banea dan Tungkela. Raja Mokodoludud berpesan kepada anak-anaknya agar selama dalam pelayaran tidak boleh mengeluarkan sepatah katapun, akan tetapi Sinangiang lupa ketika melihat sebuah pulau lalu bertanya pulau apakah itu ?. Maka tiba-tiba badai mengamuk sehingga terdampar di pulau Tagulandang, Siau dan Sangir. Ditempat ini Uringsangiang dan Sinangiang menangis terus menerus sehingga tempat ini disebut Sangihe yang bersasal dari kata Sangi, Sangitang, Masangi, Mahunsangi artinya menangis. Mereka hidup dan menetap ditempat ini, Lokonbanua menikah dengan Sinangiang.
Pada tahun 1380 seorang pedagang arab bernama Sharif Makdon setelah mengunjungi ternate lalu tiba di Manarouw(Manado Tua) menyebarkan Agama Islam kemudian, sehingga sebaian besar penduduk Manarauw memeluk agama Islam lalu Sharif Makdon berangkat ke Mindanouw. Kemudian jalur ini diikuti oleh pelaut asal Portugis Pedro Alfonso pada tahun 1511, Pedro Alfonso menemukan Ternate, setelah itu armada dagang asal Portugis secara resmi mengirimkan Antonio de Abreu ke Maluku tahun 1512. Pada tahun itu juga Portugis mengirimkan tiga kapal layar ke Manarouw,(Pulau Manado Tua).
Lokon Banua II (leken artinya nama yang diangkat kembali) adalah keturunan kesembilan dari Raja Mokodoludud Kulano(raja) Bowontehu. Berlayar dari Manarouw bersama dengan pengikutnya pergi ke pulau Siauw lalu mendirikan kerajaan Leken Banua II atau Karangetang pada tahun 1510.
Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manarouw ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523.
Nama Manarow dicantumkan dalam peta dunia oleh ahli peta dunia, Nicolas_Desliens‚ pada 1541. Manarouw menjadi pintu gerbang transit kawasan timur Indonesia bagi kapal-kapal dagang bangsa asing, sehingga menjadi daya tarik bagi pedagang Cina.
Pada tahun 1563 Peter Diego de Magelhaes dari Portugis berangkat dari Ternate menuju Manarouw mengajarkan pokok-pokok iman Kristen. Lalu Raja Manarouw bersama rakyatnya 1500 orang dibaptis kesemuanya adalah orang Sangir. Baptisan dilakukan di muara sungai Tondano yakni Raja Siauw bernama Possuma. Raja Possuma lalu diberi nama baptis dengan nama Don Jeronimo (nama portugis) Kemudian Peter Diego de Magelhaes ke Kaidipan (pesisir utara Gorontalo) membaptis 2000 orang selama 8 hari.
Tahun 1570 Bulango dari kerajaan Bowontehu (pulau Manarouw) berlayar menuju Tagulandang. Bulango mempunyai seorang anak perempuan bernama Lohoraung mendirikan kerajaan Taghulandang atau Mandorokang di pulau itu bersama para pengikutnya. Bulango adalah saudara dari Lokongbanua II dimana keduanya adalah keturunan ke sembilan dari raja Mokodoludut dengan istrinya Baunia dari kerajaan Bowontehu.
1619 Penduduk Manarouw sebagian besar telah beralih menjadi kafir. Oleh karena itu Misi Injil mengalihkan penyebaran ke pegunungan yaitu orang-orang dari suku pedalaman yang disebut alifuru lalu tiba Tomohon dan Tondano. Namun misi ini gagal, karena kedatangan misionaris dihubungkan dengan hasil panen. Saat itu panen tidak berhasil sehingga dikatakan dewa telah murka, para misionaris di usir. Seperti dalam surat Pater Blas Palomino tanggal 8 Juni 1619. Sebelum dia terbunuh di Minahasa pada tahun 1622, dia menulis mengenai sikap permusuhan para Walian pemimpin agama suku terhadap para Missionaris asal Spanyol. Juga Walian Kali yang menghasut kepala Negeri Kali bernama Wongkar untuk menolak dan melarang para Missionaris Spanyol untuk masuk ke pedalaman Minahasa.
Pada tahun 1623 Kerajaan Bawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua) dipindakan ke Gahenang/Mahenang nama kuno Wenang berasal dari bahasa Sangir artinya api yang menyala atau bersinar (Suluh,obor), oleh karena dialek bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda mereka mengucapkan Wenang demikian juga dengan Manarouw disebut Manado. Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow pada kurun waktu tahun 1644-1674. Penduduk kerajaan ini adalah orang sangihe (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit). Raja Loloda Daloda Mokoagow ini adalah anak dari Raja Tadohe. Sedangkan Tadohe sendiri adalah cucu dari Raja Siauw yang bernama Possuma dan cicit dari raja Tabukan(Rimpulaeng) Don Francesco Macaapo Juda I. Kerajaan Manarouw adalah sebagai kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan Sangihe. Setelah Raja Laloda Daloda Mokoagow kemudian menjadi raja adalah Donangbala yang memiliki pedang sakti.
Suku Bantik bukan penduduk pertama yang mendiami Manarow menurut cerita Pada Tahun 1654 Salah satu kerajaan di Sangir yakni kerajaan Malingaheng Kendahe yang dipimpin oleh Raja Sahmensi Arang (Syam Syach Alam)mempunyai seorang anak bernama Putri Bulaeng Tanding. Kerajaan ini dengan wilayah bagian barat pulau sangihe hingga pulau Kaluwurang. Kerajaan ini tenggelam oleh karena peritiwa Dimpuluse (air jatuh dari langit)mereka terdampar di tempat yang bernama Panimbuhing. Bukti peristiwa ini adalah Tanjung Maselihe di dalam terkubur kursi emas dan makota raja konon katanya di jaga oleh ikan hiu. Dari peristiwa tersebut sebagian selamat termasuk seorang yang bernama Bantik. Kemudian mereka mengangkat Bantik sebagai pemimpin lalu berihkrar menjadi satu suku yang baru yaitu Suku Bantik, dengan catatan mereka tidak boleh hidup bersama dalam satu wilayah, agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Maka diatur kelompok-kelopok berlayar dengan perahu menuju ke Mindanao,ke Beo, ke kema, ke Belang,ke Manaraw, Leok-Buol sedangkan Bantik sendiri pergi ke Mongondow. Jadi suku Bantik merupakan anak suku dari suku Sangir.
Dalam surat Pater Juan Yranzo yag ditulis di Manila tahun 1645 menyebutkan tentang pengusiran Spanyol dari tanah Minahasa pada tanggal 10 Agustus 1644. Pengusiran tersebut mengakibatkan terbunuhnya Pater Lorenzo Garalda. Para Walian Minahasa menghasut masyarakat untuk membunuh semua Missionaris Spanyol. Rencana para walian bocor hingga para Missionaris Spanyol sempat mengungsi ke tepi pantai dan berperahu ke Siauw.
Tahun 1655 Pembangunan Benteng ‘De_Nederlandsche_Vastigheit‚’ dari kayu-kayu balok sempat menjadi sengketa sengit antara Spanyol dengan Belanda. Kos berhasil meyakinkan pemerintahannya di Batavia bahwa pembangunan benteng sangat penting untuk mempertahankan posisi Belanda di Laut Sulawesi. Dengan menguasai Laut Sulawesi akan mengamankan posisi Belanda di Maluku dari Spanyol. Setelah memperoleh dukungan sepenuhnya dari Batavia, Awal Tahun 1661 Kos dari Ternate berlayar menuju Manarouw disertai dua kapal perang Belanda, Molucco dan Diamant. Kekuatan ini mengalahkan Spanyol di Manarow. Tahun 1673 Belanda memapankan pengaruhnya di Manarouw dan merubah benteng semula dengan bangunan permanen dari beton. Lalu Benteng ini diberi nama baru, ‘Ford Amsterdam‚’ dan diresmikan oleh Gubernur VOC dari Ternate. Cornelis Francx‚ pada 14 Juli 1673 (Benteng terletak dikota Manado dibongkar oleh Walikota Manado pada 1949 - 1950).
Tahun 1675 Pendeta J. Montanus mendapati bahwa jemaat-jemaat di Manado sudah sangat lemah. Tahun 1677 VOC menetapkan Pendeta Zacharias Cacheing di Manado. Sampai tahun 1700 tidak banyak lagi pendeta yang mau datang ke Indonesia. Kekristenan pada masa VOC terjadi bukan karena keimanan tetapi karena tekanan politik. (Prof.Dr.I.H.Enklaar.Sejarah gereja ringkas,81,1966)
Pada tahun 1677 Compeni mengadakan perjanjian dengan Raja Siau dengan persaratan kesepakatan bahwa Raja serta rakyat harus beralih agama dari Kristen Katolik menjadi Protestan. Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332.
Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah salah satu kerajaan terjauh dari wilayah toritorial kerajaan SaTaS.
Raja-raja Sangihe berasal dari keturunan Gumansalangi kerajaan Tampung Lawo serta Mokodoluduh dari kerajaan Bowontehu yaitu Lokonbanua,Sinangiang,Menongsangiang(P. Sangihe), Lokonbanua II (P. Siau) serta Lohoraung anak dari Bulango(Tagulandang).
Raja-raja Bolaang Mongondow, juga berasal dari keturunan Mokodoluduh kerajaan Bowontehu melalui Jayubangkai serta Gumansalangi melalui Meliku Nusa yang menikah dengan Menong Sangiang.
Raja Tadohe anak dari raja Mokodompit raja Bolaang Mongondow dari ibu berasal dari kerajaan Siau yaitu cucu dari raja Lokonbanua II dan Mangima Dampel yang berasal dari keturunan Gumansalangi dari Kotabatu Mindanow Kulano (raja) pertama kerajaan Tampung Lawo dari permaisuri Sangiang Konda Wulaeng (putri khayangan) yang bergelar Madellu dan Mekilla. Raja Tadohe menikah dengan Rasingan adalah keturunan ke sembilan dari Gumansalangi. Boki Rasingang cucu dari Raja Batahi dari permaisuri Maimunah dari kerajaan Rimpulaeng (Tabukan)bernama Raja Don Franciskus Macaampo Juda I, serta anak dari Hendrik Daramenusa Jacobus. Alkisah ketika raja Mokodompit gugur dalam peperangan, Tadohe masih kecil dan dibawa oleh ibunya ke Siau. Kerajaan Bowontehu serta Kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow diduduki oleh pasukan kerajaan Goa-Tallo.
Pada tahun 1520 kerajaan di Bolaang Mongondow meminta bantuan kepada Raja Batahi untuk membebaskan mereka dari pendudukan kerajaan Goa-Tallo. Kerajaan-kerajaan Sangihe mempunyai ikatan persaudaraan dengan kerajaan Bolaang Mongondow karena berasal dari kerajaan Bowontehu dan juga perkawinan anak-anak raja. Maka raja Batahi memerintahkan palinglima Hengkengunaung untuk menggempur pasukan kerajaan Goa-Tallo. Panglima perang Siau Laksamana Hengkengunaung turun melalui pelabuhan Pehe lewat Sasambo “Lumintu bo’u Pehe tarai ipe sombang endai makawawa Untung”. Maka pasukan kerajaan Goa-Tallo berhasil dikalahkan terus diburu hingga ke Buol-Leok.seperti pernah ditulis beberapa penulis Eopa dan H.M. Taulu. Tak heran H.B.Elias dalam bukunya juga menyebut Siau imperium dalam format kecil.
Keberhasilan pasukan Hengkengunaung mengusir pasukan kerajaan Goa-Tallo, maka semua kerajaan di Bolaang Mongondow harus membayar upeti setiap tahun ke Siau dan kerajaan-kerajaan di Bolaang Mongondow harus di pimpin oleh raja Tadohe dan keturunannya turun-temurun melalui kesepakatan bersama. Raja Tadohe melalui Boki Rasingan di karunia anak masing-masing bernama Sadadang,Tendenang, Kaki.
Loloda Daloda Mokoagow adalah cucu dari Raja Tadohe merupakan keturunan ke sebelas dari Raja Gumansalangi Madellu dengan Sangiang Konda Wulaeng dari kerajaan Tampung Lawo. Laloda Daloda Mokoagow adalah raja pertama yang menjadi raja kerajaan Manarow yang berpusat di daratan pulau Sulawesi bagian Utara sekarang disebut Manado,sebelumnya bernama kerajaan Bowontehu/Wawontehu yang berpusat di pulau Manarouw (Manado Tua). Kemudian Bowontehu/Wowontehu berubah menjadi Kerajaan Manarouw dengan raja bernama Laloda Daloda Mokoagow.
Dahulu Kerajaan ini pernah di kuasai oleh suku Bajo dan diserbu oleh pasukan sultan Kaitjil Sibori dari Ternate bersama pasukannya dari Laloda tetapi berhasil dihalau oleh pangeran Meliku-Nusa dari kerajaan Tampung Lawo. Pangeran Meliku-Nusa tidak kembali ke Sangir tapi terus mengembara mengalakan jagoan-jagoan di Bolaang Mongondow kemudian menikah dengan Menong Sangiang putri raja Mongondow. 
Kerajaan Manarouw merupakan pembentukan oleh Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manarow (Gahenang/Wenang/Manado tahun 1677), memindahkan ke Singkil 54 orang dari (pulau Manarouw Manado Tua) sakit karena kekurangan makanan. Penduduk/Rakyat kerajaan Manarow adalah orang Sangir-Talaud, sesuai catatan Gubernur VOC Maluku, Robertus Padtbrugge ketika berada di Manado tahun 1677 mengatakan bahwa orang Sangir Tualah adalah penduduk pribumi yang pertama di Manado, yakni sekitar tahun 1332. (Graafland, Minahasa masa lalu dan masa kini, terjemahan Joost Kulit).
Manado bukan Minahasa,(sejarah Minahasa-Kontrak 19 Januari 1679 hal 61). Minahasa itu Malesung, disebut oleh orang Sangir Tau Kaporo (orang yang hidup digunung), sehingga sekarang ini orang Minahasa disebut orang gunung. Manarauw adalah wilayah toritorial dari kerajaan Sangihe-Talaud yang terjauh, hingga kini etnis Sangihe Talaud menyebut Manado adalah Manarauw. Wilayah kerajaan Manarouw sesuai memori Padtbrugge disebut menurut nama asalnya meliputi : P. Manarauw(Manado Tua), P. Siladeng, P. Bunaken, P. Mantehage, P. Nain, P. Talise, P. Gangga, P. Bangka dan P. Lembeh serta daerah pesisir pulau Sulawesi. .***[Sumber tulisan: Buku karya Shinzo Hayase, Domingo M. Non, dan Alex J. Ulaen yang berjudul “SILSILAS/TARSILAS (GENEALOGIES) AND HISTORICAL NARRATIVES IN SARANGGANI BAY AND DAVAO GULF REGIONS, SOUTH MINDANAO, PHILIPPINES, AND SANGIHE-TALAUD ISLANDS, NORTH SULAWESI, INDONESIA” halaman 251-252]. Hingga kini lokasi-lokasi tersebut masih ditempati oleh suku Sangihe Talaud dan Sitaro.
Raja Laloda Daloda Mokoagow juga sebagai raja, kemudian kerajaan Manarow/Wenang digantikan oleh Donangbala seorang pendekar ahli pedang karena meiliki pedang sakti. Donangbala adalah keturunan dari Meliku-Nusa dengan Menong Sangiang.Penduduk Gahenang/wenang adalah orang Sangir Talaud sejak kerajaan Bowontehu mulai berdiri dan berkembang menjadi banyak. Kerajaan-kerajaan SaTaS dikenal sejak jaman kerajaan Majapahit disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama sebagai Uda Makataraya, yang berlabu di Tanjung Pulisang kemudian berlabuh di pulau Manado Tua lalu menuju ke Sulu tetapi tenggelam di perairan Sangir. 
Raja Siauw XIV. Raja Jacob Ponto 1850 – 1882
Putra Raja Bolang Itang Daud Ponto saudara dari Raja Nicolaus Ponto Tawere. Pemerintahan colonial melihat bahwa Raja Jacob Ponto adalah seorang yang berbahaya dimata pemerintah Belanda, dan menjadi duri dalam tubuh kolonial maka pada tahun 1882 beliau dibuang keluar daerahnya ke pesisir utara Jawa Barat ke kota Cirebon. Beliau menetap di Cirebon sampai wafat pada tahun 1890, dan dimakamkan di selatan kota Cirebon bernama Sangkanurip 12 km dari kota Cirebon. Bagi generasi tua di kota Cirebon beliau dikenal dengan sebutan Raja Menado.
Pada masa pemerintahan raja Siauw XVII yaitu Raja A.J. Mohede tahun 1908 - 1912. Manado sebagai pusat kedudukan pemerintahan Kolonial Belanda yakni Keresidenan Manado dengan wilayah Sulawesi Utara Tengah. Belanda dengan VOC membatasi kekuasaan para raja dengan pemerintahan Swapraja tetapi kekuasaan mutlak ada pada kerajaan belanda dalam hal ini Residen Manado. Maka mulailah daerah wilayah kekuasaan sejak jaman keranjaan Bowontehu di serahkan oleh raja-raja siauw kepada pemerintahan kolonial. Manado terakhir di serahkan oleh Raja A.J. Mohede kepada Assisten Residen Manado pada tahun 1908- Masehi. 
Jadi Manado bukan milik etnis tertentu,dengan dikuasai melalui mengkaburkan/merekayasa sejarah kota Manado yang bermula berakar dari kejayaan Bowontehu kemudian menjadi kerajaan Manarauw(Manado). Tidak ada yang namanya suku Bowontehu ataupun suku Mindanao yang benar adalah suku Sangil atau Sanghi atau Sangi atau San Gil atau Sangu atau San atau sangir Talaud, mohon kepada pemerintah tolong diluruskan. Manado sekarang ini terdiri dari berbagai etnis yang ada di Nusantara, dan sebagai milik bangsa yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia,milik kita bersama sebagai suku-suku bangsa Indonesia.

6 komentar:

  1. apa lambang dan bendera kerajaan tampung lawo

    BalasHapus
  2. Tulisannya bagus pak, mungkin sedikit diperbaiki struktur penulisan, dan meminimalisir pengulangan...semoga banyak generasi muda suku sangihe yang membacanya..

    BalasHapus
  3. saya masih ad turunan dr sangihe talaut, dan sy suka tentang cerita.y pak..sy sedikit mengerti cerita.y nie..sepintas yg sy diceritakan mama sy, ternyata cerita.y sedikit mirip dengan cerita bpk...

    BalasHapus
  4. Apa benar dulu ada Ratu bernama SASELA lalu menikah dengan Pelaut Jerman yg bernama ANDERS

    BalasHapus
  5. Apa benar dulu ada Ratu dari Sangir talaud bernama SASELA lalu menikah dengan Pelaut Jerman yg bernama ANDERS??
    adakah sejarah tsb???

    BalasHapus
  6. Ada yg benar sesuai referensi, dan ada yg perlu diluruskan karena didasarkan pada legenda, yg versinya berbeda pada tiap penutur kisah. Sudah bagus sebagai sebagai sebuah tulisan yg bermanfaat bagi generasi masa kini. Terus menulis dan makin sukses menelusur sejarah.

    BalasHapus